Merajut Pondasi Keberlanjutan di Pekon Waringinsari Timur
Senin, 6 Juli 2026, menjadi waktu pertama menapakkan kaki di bumi jejama secancanan, Pringsewu. Menyusuri hamparan sawah, hutan dan pemukiman yang nampak hijau dengan sedikit sensasi terguncang disepanjang jalan. Rombongan tim KKNT IPB hadir membawa gagasan keberlanjutan membangun bangsa dari desa.
Kami bertujuh dengan berbagai latar belakang kehidupan dan disiplin ilmu yang berbeda, membawa 5 program kerja yang diharapkan dapat diimplementasikan di Pekon Waringinsari Timur. Empat puluh hari pengabdian disana, kami awali dengan pelaksanaan proker pengembangan paving block berbahan plastik atau yang disebut eco paving block. Produk ini merupakan penyempurnaan dari paving block yang telah dikembangkan sebelumnya. Produk eco paving block yang terbaru disempurnakan melalui pemilahan jenis sampah plastik seperti gelas bening, botol bening dan plastik kresek. Dilanjutkan dengan penakaran bahan campuran yang tepat antara plastik, batu split, pasir dan oli sehingga diperoleh ukuran pasti dari setiap campuran adonan paving block. Setelah dimasak dalam drum besi, lalu dituangkan kedalam cetakan berbentuk balok. Dari setiap 2 kg sampah plastik yang diolah akan menghasilkan 2 paving. Dalam pengaplikasiannya, eco paving block dapat dipasang pada sebagai hiasan untuk taman maupun sebagai lintasan pejalan kaki. Kreasi ini ditargetkan untuk dapat mengurangi tumpukan sampah plastik yang tak terkelola dengan baik. Sehingga limbah plastik dapat diubah menjadi suatu yang bermanfaat.
Program kedua yang kami laksanakan yaitu pengembangan SOP pengolahan mocaf di Sentra IKM Gadingrejo. SOP yang kami kembangkan ditargetkan dapat digunakan dalam pengembangan rumah produksi mocaf yang termasuk dalam program Kompak yang menjadi agenda besar Bupati Pringsewu. Hal-hal yang dikembangkan meliputi panduan produksi secara terperinci ditambah foto proses yang spesifik serta dengan bahasa yang mudah dipahami.. Dengan begitu, masyarakat yang tergabung dalam Program Kompak dapat dengan mudah memahami alur produksi dan pakem-pakemnya sehingga chips mocaf yang dihasilkan sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan.
Tidak hanya pengembangan SOP yang menjadi langkah dari pengembangan industri mocaf, kami juga mencoba untuk melakukan inovasi dari produk makanan dengan bahan dasar tepung mocaf. Cukup prihatin sebenarnya, dengan agenda besar bupati untuk mengembangkan mocaf, namun masyarakat belum secara aktif memanfaatkan dan mengonsumsi makanan berbahan dasar mocaf. Melihat hal ini, kami mencoba berkreasi dengan mengolah tepung mocaf dan daun kelor menjadi kukis kering. Ide ini diperoleh ketika kami melihat adanya kebingungan para ibu untuk mengolah telur yang diberikan melalui program PMT untuk anak stunting. Tepung mocaf dengan gluten freenya dan daun kelor sebagai salah satu superfood merupakan kombinasi tepat untuk menjadi pangan tambahan untuk anak-anak. Melalui kolaborasi dengan PKK dan bidan setempat, kami mengembangkan kukis mocaf daun kelor ini untuk membantu para ibu agar bisa berkreasi dengan makanannya tanpa terbatas pada jenis bahan yang tersedia.
Masyarakat yang bergelut di bidang UMKM juga tak luput menjadi perhatian kami. Para pemilik warung kelontong di sepanjang jalan utama Pekon Waringinsari Timur kami beri sosialisasi terkait pemanfaatan QRIS sebagai alternatif pembayaran selain tunai. Pembayaran digital yang sudah digunakan banyak masyarakat kota, kami rasa perlu juga untuk bisa masif diadopsi oleh masyarakat desa. Jalan utama menjadi fokus kami karena tidak hanya warga lokal yang berlalu lalang, tapi juga warga dari pekon lain maupun luar daerah. Disamping sosialisasi dan pembuatan QRIS, kami juga menargetkan UMKM makanan untuk membantu pemasaran melalui media sosial dan upgrade packaging. Berkembangnya digitalisasi terutama pada usaha-usaha ini, dapat memantik perputaran uang yang lebih besar dan cepat.
Dari program-program yang telah dipaparkan sebelumnya, kita belum mendengar program yang berfokus pada usaha penanganan terhadap sampah organik. Pernah mendengar istilah maggot? Itu merupakan larva dari lalat BSF yang dapat mencerna sampah organik 2 kali berat tubuhnya. Kami mencoba untuk membentuk usaha berbasis komunitas yang membudidayakan maggot sebagai pakan alternatif untuk pakan ternaknya. Selama 40 hari disana, kami berhasil membudidayakan maggot hingga menjadi lalat BSF. Sebagian larvanya, kami keringkan menjadi produk maggot kering sehingga bisa lebih awet untuk diberikan sebagai pakan ternak. Memang target kami untuk bisa membentuk komunitas yang self sustain belum bisa tercapai selama masa pengabdian kami. Namun langkah kami sudah menjadi bukti usaha untuk mengembangkan perekonomian desa melalui hal sederhana.
Sebagai penutup, kami berkolaborasi dengan dokter hewan untuk melakukan sosialisasi dan vaksinasi rabies terhadap hewan peliharaan terkhusus anjing, kucing dan kera. Rencana awal kami menargetkan seluruh wilayah pekon dapat tersentuh. Namun, jumlah dosis yang tersedia terbatas sehingga kegiatan hanya difokuskan di salah satu dusun. Kami sangat bersyukur para pemilik hewan sangat antusias mengikuti kegiatan sosialisasi di rumah kadus dan vaksinasi di rumah masing-masing.
Komentar baru terbit setelah disetujui Admin